Home » NUSANTARA » Menemukan Tuhan dalam Puasa

Menemukan Tuhan dalam Puasa

PROFIL KETUA YAYASAN

yayan

Follow me on Twitter

March 2017
M T W T F S S
     
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Penulis H. Ahirman Rasyid – Pimp. Ponpes Zidny Ilma Banyuasin Sumsel

DI DALAM dalam lambung, makanan dicerna selama enam jam, setelah itu berangsur-angsur didistribusikan kedalam usus dan kembali dicerna selama empat jam, artinya setelah 10 jam sari makanan baru dapat didistribusikan kedarah. Sebab itu dalam ritme pola makan di hari biasa, nyaris organ tubuh tidak beristirahat.

Dengan sarapan pagi pukul 06.00 artinya organ pencernaan akan bekerja sampai pukul 16.00 sore, sementara itu pada pukul 12.00 siang lambung sudah menerima makan siang yang akan diolah sampai pukul 22.00 malam. Sebelumnya, yaitu pukul 19.00 malam perut kita sudah menerima makan kembali dan akan dicerna sampai pukul 06.00 pagi.

Begitulah seterusnya organ pencernaan tidak mempunyai kesempatan untuk beristirahat. Demikian menurut DR. H. Briliantono M. Soenarwo, SpOT, FICS, MD, PhD seorang dokter dan Direktur Utama Halimun Medical Centre Jakarta dalam buku Trilogi, “Sehat Tanpa Obat”, 2011. Disisi lain Mufaddhal menulis dalam kitabnya “Tauhid al Mufadhdhal” apa yang dikatakan oleh gurunya Imam Ja’far as shaddiq, bahwa di dalam tubuh manusia ada empat kekuatan yang bekerja.

 Pertama;kekuatan menarik (selera), hal ini menyebabkan muncul keinginan untuk makan dan lain sebagainya. Kedua; kekuatan untuk mengolah makanan sehingga menjadi sari makanan yang berdayaguna bagi tubuh . Ketiga; kekuatan untuk menyalurkan zat makanan yang yang halus tersebut ke seluruh tubuh. Keempat;kekuatan untuk mengeluarkan sisa-sisa makanan yang tidak berguna lagi dari dalam perut berupa kotoran-kotoran.

Yang sangat menarik disini adalah Imam Ja’far as shaddiq dengan mengungkapkan empat kekuatan tersebut tanpa menyebutkan organ apa yang di maksud. Demikian juga antara kekuatan tersebut berjalan seirama tanpa ada pertentangan.

Ini karena beliau ingin menggiring kita pada pemahaman ketuhanan, bahwa kekuatan tersebut mempunyai nilai-nilai tauhid yang ada pada manusia. Kekuatan tersebut tidak mungkin hanya ada begitu saja tanpa ada unsur kekuatan lain diluar tubuh manusia, itulah kekuasaan Allah sebagai Sang Kholiq. Analisa ini kemudian dikenal dengan analisa dengan teori rasional.

Sementara itu teori pemikiran ilmiah menyikapi bahwa sesuatu yang tidak nampak tidak termasuk pada wilayah pemikirannya. Teori ini hanya menganggap bahwa kekuatan tersebut tidak nampak, karena tidak ada objek yang dilihat dan di teliti. Sebab itu dalam berpikir model ini menganggap bahwa selagi kekuatan tersebut tidak memiliki objek yang nampak maka dianggap tidak ilmiah.

Walaupun pada kenyataannya proses kekuatan yang ada dalam tubuh manusia tersebut memang benar, dapat dirasa dan terjadi setiap saat. Imam Ja’far dalam buku yang di tulis oleh muridnya tersebut mengajarkan kepada kita tentang pengakuan seorang hamba prihal keberadaan tuhan dengan cara yang sangat menyentuh, tanpa menyampingkan nilai-nilai ketuhanan.

Ilustrasi : Google Image

Seolah beliau ingin mengingatkan bahwa jika kemudian hari manusia menemukan bentuk kekuatan tersebut dalam bentuk wujud yang nampak seperti berbagai analisa kedokteran maka tidak selayaknya manusia melupakan tuhan di dalam dirinya. keempat kekuatan yang ada dalam tubuh tersebut tidak mungkin atau mustahil akan berjalan terus menerus tanpa ada istirahat. Sebab itu harus ada syari’at untuk menahan sementara supaya organ-organ yang berhubungan dengan kekuatan tersebut dapat terjaga kelestariannya secara baik, akhirnya itulah yang disebut dengan puasa artinya “menahan”.

Supaya nilai-nilai ketuhanan tidak lepas dari berbagai kajian ilmiah, dan merugikan manusia maka Allah mengajarkan puasa tersebut dengan aturan-aturan tertentu, seperti apa yang dicontohkan oleh seorang manusia juga yaitu Nabi Muhammad SAW.

Penemuan-penemuan kontemporer yang berhubungan dengan pelaksanaan ibadah secara ilmiah, jangan sampai melahirkan penyimpangan akidah namun sebaliknya harus mampu menambah kekuatan imam sehingga kita benar-benar taat untuk melaksanakan segala perintah dan menjauhi semua larangan dari sang pencipta, Allah SWT.

Inilah yang kemudian yang menjadi tujuan dari ibadah puasa. Penemuan ilmiah tentang terafi gerakan sholat tidak boleh melupakan hakikat kewajiban sholat, penemuan matematika sedekah jangan melupakan niat ikhlas karena Allah, penemuan ilmiah tentang zakat, haji, kekuatan zikir dan lain sebagainya harus tetap dalam kerangka pemurnian terhadap nilai-nilai syahadat.

Apa artinya penemuan ilmiah tersebut jika tidak memberikan dampak kemaslahatan jiwa secara pribadi, apa artinya penemuan tersebut jika tidak berakibat positif bagi lingkungannya. Pendapat DR. Briantono diatas menyampaikan nilai spiritualitas puasa dari sisi efeknya terhadap kesehatan, sementara Imam Ja’far as Shaddiq menilai puasa dari sisi ketauhidan.

Kedua analisis ini seharusnya menjadi satu kesatuan untuk memahami puasa secara lebih mendalam dalam kerangka makna ketuhanan sebagai bukti kita sebagai makhluk. Kita tidak hanya mengambil nilai puasa hanya dari sisi keuntungaan ilmiah, akan tetapi harus mengedepankan bentuk pengabdian sebagai hamba Allah.

Sebab seseorang yang hanya meinginkan faedah puasa dari sisi kesehatan, maka belum tentu bagi dirinya akan mendapat nilai ketuhanan. Sebaliknya seseorang yang mengerjakan karena benar-benar karena panggilan keimanan, maka sudah tentu ia akan mendapatkan efek ilmiah yang menguntungkan bagi dirinya sekaligus menemukan Tuhan dalam puasanya.**

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: