Home » FORUM SANTRI » Memperkuat Santri dalam Membangun Negeri

Memperkuat Santri dalam Membangun Negeri

PROFIL KETUA YAYASAN

yayan

Follow me on Twitter

March 2017
M T W T F S S
     
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Oleh Priyanto (Guru PAI SMP Negeri 3 Mrebet)

 Presiden Joko Widodo menetapkan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasonal melalui Kepres No 22 Tahun 2015 tentang Hari Santri. Dalam keputusan tersebut dijelaskan bahwa jasa para ulama dan santri terhadap bangsa sangat besar, para santi berani mengorbankan nyawanya untuk memperjuangkan, mempertahankan dan mengisi kemerdekaan Indonesia.

Dalam isi deklarasi tersebut juga dijelaskan bahwa Hari Santri Nasional digelar untuk mengenang dan meneladani serta melanjutkan peran ulama dan santri dalam membela dan mempertahankan NKRI serta berkontribusi dalam pembangunan bangsa.

Mengapa tanggal 22 Oktober? Tanggal ini adalah tanggal bersejarah. Tanggal di mana Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari, pendiri NU, memaklumatkan fatwa yang sohor disebut Resolusi Jihad sehingga menginspirasi perlawanan yang dipandegani oleh laskar kiai dan santri melawan Pasukan Sekutu (NICA) pada tanggal 10 November 1945. Tanggal ini dipilih karena mempresentasikan subtansi kesantrian, yakni spritualitas dan patriotisme dalam rangka melawan penjajah.

Menurut Agus Sunyoto (sejarawan NU), kaum santri merupakan representasi bangsa pribumi dari kalangan pesantren yang sangat berjasa membawa bangsa ini menegakkan kemerdekaan melalui Resolusi Jihad. Resolusi Jihad dianggap sebagai seruan penting yang memungkinkan Indonesia tetap bertahan dan berdaulat sebagai negara dan bangsa. Inti daripada Resolusi Jihad ini adalah bahwa membela Tanah Air dari penjajah hukumnya fardlu’ain (wajib) bagi setiap individu.

 Santri dan Pembangunan Bangsa

Kata “santri” menurut Nurcholish Madjid dapat dilihat dari “santri” yang berasal dari perkataan“sastri”, bahasa Sanskerta yang artinya melek huruf. Dan di sisi lain, Zamkhsyari Dhofier mengatakan bahwa kata “santri” dapat diartikan buku-buku suci, buku-buku agama, atau buku-buku tentang ilmu pengetahuan. Dari Kamus Umum Bahasa Indonesia, kata ini mengandung beberapa pengertian, yaitu (a) orang saleh, orang yang beribadah dengan sungguh-sungguh dan (b) yaitu “cantrik”, yang dalam bahasa Jawa berarti seseorang yang selalu mengikuti seorang guru kemana guru itu pergi. Sehingga menurut para ahli, pengertian “santri” adalah panggilan untuk seseorang yang sedang menimba ilmu pendidikan agama Islam selama kurun waktu tertentu dengan jalan menetap di sebuah pondok pesantren.

Merujuk pada hal tersebut, maka tidak heran bila sebutan santri tidak bisa tergantikan oleh varian muslim lainnya yang dianggap mampu memberikan harapan akan pengembangan pendidikan dan keilmuan bagi kepentingan masyarakat luas. Sebagai varian yang sangat taat dalam menjalankan ajaran agama, santri bisa menjadi pemimpin dalam berbagai kegiatan sosial yang menjalankan fungsinya untuk kepentingan keumatan. Dalam dimensi keberagamaan, kaum santri boleh dibilang sebagai “orang saleh” yang selain memenuhi aturan syariat kualitas kesalehan, tapi juga dilihat dari cara hidup yang mendekati perilaku seorang sufi.

Kesalehan dalam menjalankan perintah agama dengan sungguh-sungguh merupakan potret nyata atau merepresentasikan varian santri yang disebut Geerzt sebagai “kelompok muslim yang menjalankan syariat dengan konsisten”. Menurut Abdul Munir Mulkhan, kesalehan tidak hanya berkaitan dengan ketaatan dalam menjalakan perintah agama, namun juga berkaitan dengan prinsip humanisme universal. Kesalehan adalah tindakan yang berguna bagi diri sendiri dan orang lain, serta dilakukan atas dasar kesadaran pada ajaran Tuhan. Tindakan saleh (sering disebut dalam kosa kata ”amal saleh”) merupakan implementasi keberimanan, pernyataan atau produk dari iman (percaya kepada Tuhan) seseorang yang dilakukan secara sadar.

Kompetensi santri tidak terlepas dari pondok pesantren tempat mereka menempa ilmu. Tercatat di Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama bahwa jumlah santri pondok pesantren di 34 provinsi di seluruh Indonesia, mencapai 3,65 juta yang tersebar di 25 ribu pondok pesantren (Kemenag data 2011). Jumlah santri ini merupakan potensi luar biasa dan dapat menghasilkan dampak besar bagi pembangunan bangsa jika program dan kegiatan para santri dikelola dengan sistem yang baik.

Pondok Pesantren merupakan tempat para santri belajar, sebagian masih menerapkan pendidikan tradisional, namun banyak juga yang sudah menggunakan standar pendidikan modern. Pendidikan di lingkungan pondok pesantren sebagai satu ujung tombak bagi terlaksananya sistem pendidikan agama Islam yang baik dan benar serta pencipta SDM dengan motivasi, jiwa kepemimpinan, akhlak serta intelektual yang tinggi. Sudah terbukti pondok pesantren mampu melahirkan tokoh-tokoh Islam yang sukses, sehingga sistem pendidikan tidak perlu dibedakan dengan sekolah umum karena memiliki tujuan yang sama yakni bagaimana menciptakan kader pemimpin masa depan bangsa yang memiliki kepribadian luhur.

Merunut sejarah perkembangan pesantren di Indonesia tidak dapat dipisahkan dengan asal-mula lahirnya pesantren yang terpengaruhi oleh sejarah Walisongo abad 15-16 Masehi. Menurut Abdurrachman Mas’ud pondok pesantren memiliki ciri: (1) Orientasi kehidupan (way of life) yang lebih mementingkan akhirat daripada kehidupan dunia, (2) Kepemimpinan (leadership) dari seorang tokoh yang karismatik, seperti kepemimpinan Nabi Muhammad SAW dan Walisongo yang menjadi kiblat para santri sehingga kepemimpinan yang bersifat paternalism dan patron-client relation yang sudah mengakar pada budaya Jawa, (3) Misi Walisongo sebagai solution system yaitu selalu berusaha menerangkan, memperjelas, dan memecahkan persoalan masyarakat serta memberi model ideal bagi kehidupan sosial masyarakat, (4) Menghilangkan dikotomi atau gap antara ulama dan raja atau yang kita kenal dengan istilah “Sabdo Pandita Ratu” dan (5) Mendidik dengan cara sederhana sehingga mudah ditangkap dan dilaksanakan.

Pendidikan di pondok pesantren secara umum adalah mewujudkan masyarakat Indonesia yang memiliki tanggung jawab tinggi di hadapan Allah sebagai khalifah sehingga harus memiliki sikap, wawasan, pengamalan iman, akhlakul karimah, tumbuh kemerdekaan, demokratis, toleran, menjunjung hak asasi manusia, berwawasan global yang berdasarkan ketentuan, tidak bertentangan dengan nilai dan norma Islam. Sedangkan misi pendidikan pondok pesantren secara umum adalah menuju masyarakat madani, melalui pendidikan yang otonom, luwes namun adaptif dan fleksibel. Proses pendidikan yang dijalankan bersifat terbuka dan berorientasi kepada kepentingan bangsa, diselenggarakan secara global, memiliki komitmen nasional dan bertindak secara lokal sesuai dengan petunjuk Allah serta Rasul-Nya menuju keungulan insan kamil.

Santri memiliki beberapa kelebihan dibanding dengan lulusan dari sekolah umum, khususnya pengetahuan dan kecerdasan di bidang spiritual dan akhlak. Bila dikaitkan dengan kasus kriminal yang marak terjadi di Indonesia, maka mendorong para santri untuk meningkatkan peran mendongkrak keberhasilan pembangunan Indonesia menjadi satu faktor penting yang perlu dipertimbangkan. Kini saatnya pemerintah perlu memberi ruang yang cukup, termasuk iklim kondusif kepada para santri dan pesantren agar dapat berpartisipasi dalam pembangunan.

Pesantren tidak cukup hanya menciptakan para santri yang memiliki kompetensi tinggi tetapi juga harus mampu menciptakan produk kreatif dan inovatif yang dapat dikontribusikan ke ranah industri bernuansa islami. Para santri perlu dibekali dengan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek), agar dapat menjawab berbagai masalah yang terjadi di masyarakat seperti pemberdayaan masyarakat, pengentasan kemiskinan, pembangunan karakter yang jujur, berkhlak mulia, motivasi tinggi, tahan malang serta cerdas dan kreatif. Bahkan harus mampu berpartisipasi dalam pembangunan lingkungan strategis seperti pembangunan di bidang ekonomi, lingkungan hidup, kemanan kedaulatan negara, dan budaya.

Dengan demikian pesantren termasuk di dalamnya pesantren modern seperti yang sekarang kita lihat di berbagai tempat di Indonesia masih perlu terus diselaraskan baik kualitas maupun jumlah program studi yang sesuai dengan kebutuhan riil masyarakat, sehingga partisipasi santri dan pesantren dalam pembangunan bangsa semakin tampak dan nyata.

Untuk itu dalam kerangka mengimplementasikan Resolusi Jihad dalam pembangunan bangsa, maka pesantren perlu memperkuat tiga hal penting, yaitu pengembangan kelembagaan pesantren, sumberdaya, dan jaringan pesantren. Santri setulus hati membangun negeri. Selamat hari santri. Wallahua’lam bish shawaab.

Sumber Berita: http://satelitnews.co/berita-memperkuat-peran-santri-dalam-membangun-negeri.html#ixzz4bfORxIeO

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: