Home » HOME » ‘Al Saunesia’: Produk Diplomasi ala Santri Nusantara

‘Al Saunesia’: Produk Diplomasi ala Santri Nusantara

PROFIL KETUA YAYASAN

yayan

Follow me on Twitter

March 2017
M T W T F S S
     
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Oleh: KH Abdul Adzim Irsyad*

Dalam dunia pondok pesantren Nahdliyin, seorang santri harus cerdas dan kreatif. Harus mampu mandiri. Sejak bangun tidur, hingga akan tidur lagi, kegiatan santri itu harus ngaji. Mereka baru istirahat pada sekitar jam 21.00 malam. Kalau santri senior, kadang harus ngaji kitab-kitab klasik, seperti; Ihya Ulumuddin. Nyaris, seorang santri hidupnya ngaji dan mengabdi kepada kiai.

Sepandai apa pun, dan setinggi apapun ilmu dan derajat atau pangkat, seorang santri itu pasti akan tetap memuliakan guru-gurunya. Tidak ada ceritanya seorang kiai itu memprotes, apalagi mendemo kiai. Kalau berbeda pendapat itu biasa terjadi, tetapi seorang santri akan tetap mencium tangan gurunya, dan juga memuliakan putra-putrinya. Itulah akhlak seorang santri kepada gurunya.

Seorang ulama besar yang bernama Said Al-Bunani, saat bertemu dengan seorang sahabat yang bernama Anas Ibn Malik ra, lalu mendekatinya, kemudian menyalaminya dan mencium tangannya. Lalu dia berkata; “Tangannya pernah bersentuhan dengan tangan Rasulullah SAW”.

Begitu juga dengan para santri yang mencium tangan gurunya, mereka punya keyakinan bahwa guru-gurunya pernah bersalaman dengan guru-gurunya sehingga menyambung hingga Rasulullah SAW.

Gur Dur pernah menjadi ketua PBNU, juga pernah menjadi Presiden Republik Indonesia. Beliau tetap saja mencium tangan guru-gurunya. Walaupun gurunya kadang orang biasa. Itulah akhlak yang diajarkan para ulama terdahulu kepada santri. Makanya, kajian kitab Ta’lim Mutaallim dalam tradisi pesantren NU, tidak akan pernah dihilangkan. Bahkan menjadi kajian wajib bagi para santri.

Nah, Dubes Indonesia untuk Arab Saudi kali ini, yakni Dr Agus Maftuh, termasuk salah satu sosok santri desa yang fenomenal. Orang bilang, walaupun “wajah deso, tetapi penampilan dan rejeki kuto”.

Ketika dilantik menjadi Dubes untuk Arab Saudi, beliau benar-benar mengunakan gaya santri di dalam merayu para pangeran Arab Saudi. Termasuk merayu Raja Salman Ibn Abdul Aziz untuk membangun kerja sama dengan pemerintah Indonesia.

Ketika diberikan kesempatan berbicara di depan para pengeran Arab Saudi. Termasuk yang mulia Amir Faishol Ibn Bandar Ibn Abdul Aziz, Syekh Al-Qorni, tepatnya pada tanggal 27 Oktober 2016. Dubes RI untuk Arab Saudi, Dr Agus Maftuh, tidak segan-segan memuji Raja Salman di dalam mempelopori perang terhadap terorisme.

Beliau juga mengungkapkan, bahwa dirinya sudah hafal lagu-lagu kebangsaan Indonesia sebelum nenjadi seorang Dubes Indonesia untuk Arab Saudi. Hal ini belum pernah dilakukan oleh dubes-dubes Indonesia sebelumnya. Inilah gaya santri sejati yang merayu para pangeran Arab Saudi. Sontak, para hadirin yang terdiri dari para pangeran dan ulama tertawa dan gumun (heran) dengan bertepuk tangan.

Sejak rencana kunjungan Raja Salman Ibn Abdul Aziz, ada istilah baru dalam bahasa Arab yang tidak ditemukan dalam kamus bahasa Arab, dan juga kamus bahasa Indoensia. Apalagi bahasa Inggris.Kata itu adalah “Al-Saunesia”.

Rupanya, istilah ini bersumber dari sambutan Dubes Arab Saudi untuk Indonesia di depan para pangeran dan pejabat serta ulama besar Arab Saudi.

“Al-Saunesia” itu berasal dari dua suku kata, “Saudi Arabia dan Indonesia”. Ketika mengenalkan istilah  itu, semua hadirin tepuk tangan dan terheran-heran. Barangkali orang Arab yang hadir pada waktu itu berkata “bisa aja orang ini”. Bagi santri yang seperti ini sudah biasa.

Sebenarnya, di balik istilah itu tersimpan makna yang mendalam. Yaitu bagaimana merekatkan hubungan antara Arab Saudi dan Indonesia dalam semua aspek.

Bagi para pengajar bahasa Arab, istilah “Al-Saunesia” juga termasuk aneh. Bisa dimasukkan ke dalam bahasa Arab modern. Istilah ini bisa dimasukkan di dalam mufaradat diplomasiyah.

Nah, di kemudian hari, bukan tidak mungkin muncul istilah-istilah baru yang mirip dengan “Al-Saunesia”, misalnya “Al-Sausiya” yang berarti “Saudi Arabia dan Malaysia”.  Gaya santri dan kreativitas bahasanya itu memang luar biasa.

Istilah ini juga menggambarkan betapa dekatnya hubungan Arab Saudi dan Indonesia. Sebagaimana hubungan Indonesia dengan Saudi Arab sejak awal merdeka. Dalam sambutan itu, Dr Agus Maftuh menceritakan bahwa Saudi termasuk negara yang mengakui kemerdekaan Indonesia sejak awal.

Di balik istilah yang digunakan terdapat makna yang sangat mendalam, yaitu rayuan maut  seorang santri kepada para pangeran Arab Saudi. Khususnya kepada Raja Salman Ibn Abdul Aziz agar mau berkunjung ke Indonesia dan berinvestasi. Itulah dasyatnya sebuah diplomasi ala santri melalui pendekatan bahasa Arab Santri.

Pada hakikatnya, secara tidak langsung, Indonesia telah membantu pertumbuhan perekonomian  Arab Saudi. Lihat saja, ada dua ratus ribu ribu jamaah haji setiap tahun datang ke Makkah. Itu berlangsung sejak awal kemerdekaan Indonesia. Bahkan sebelum merdeka. Mereka datang dengan membawa puluhan juta rupiah. Ini tidak pernah berhenti.

Jamaah haji dan umrah yang datang ke Makkah dan Madinah membelanjakan duitnya di Arab Saudi. Hotel, maskapai penerbangan, pertokoan, restoran, serta transportasi mendapatkan berkah dari jamaah haji Indonesia. Tidak terhitung jumlah duit umat islam Indonesia yang dibelanjakan di sana.

Jadi, tidaklah berlebihan jika kedatangan Raja Salman bin Abdul Aziz beserta rombongan di Indonesia juga membawa duit banyak untuk investasi di Indonesia. Dengan demikian, hubungan ekonomi bisa saling menguntungkan kedua belah pihak.

Bukan saja pemerintah Arab Saudi yang berinvestasi di Indonesia, para pengusaha dan pangeran-pangeran yang banyak duitnya itu bisa mengivestasikan dana mereka di Indonesia. Apalagi, dari segi agama dan teologi, Arab Saudi dan Indonesia memiliki kedekatan dan kesamaan.

Keduanya menganut teologi Ahlussunnah Waljamaah. Hanya madzab fikihnya yang berbeda. Saudi sebagian besar mengikuti Madzab Hambali, sementara Indonesia mengikuti Madzab Al-Syafii. Tetapi, tarawihnya sama-sama 20 rakaat.

Para pengusaha Indonesia yang bertebaran di seluruh Nusantara, bisa berpeluang mendapatkan kesempatan mengirimkan komoditas produk-produk Indonesia ke Saudi dengan mudah. Seperti busana muslim yang diminati oleh masyarakat Arab Saudi.

Begitu juga dengan  buah-buahan tropical. Seperti; rambutan, manggis, salak, dan kelapa muda. Bahkan,  alat-alat kesehatan juga bisa ditingkatkan. Dalam masalah kesehatan, jumlah dokter dan perawat pun bisa bekerja di Arab Saudi bisa lebih banyak lagi. Dalam masalah pendidikan, Saudi bisa memberikan tambah mahasiswa yang mendapat beasiswa.

Pada tanggal 16-26 Januari 2017, kebetulan saya bisa keliling Dubai, Abu Dhabi, Jeddah, Makkah, Madinah, dengan tujuan melihat pasar buah-buahan tropikal. Rupanya, kebutuhan buah tropikal di Arab Saudi dan Emirat besar dan tinggi. Itu semua tidak lepas dari kedua tanah suci yang menjadi tujuan utama umat islam yang menunaikan ibadah haji dan umrah sepanjang tahun.

Sebagian besar buah tropis justru datang dari Thailand, Malaysia, Vietnam. Seperti ,anggis, pisang, salak, rambutan, kelapa muda, dan nangka. Padahal, barang-barang tersebut merupakan produk unggulan Indonesia. Ini mestinya, Indonesia jauh lebih mudah mengirimkan buah-buahan di atas. Apalagi, Saudi dan Indonesia memiliki kesamaan agama dan keyakinan.

Nah, sekarang, Dr Agus Maftuh selaku Dubes RI untuk Arab Saudi, telah membuka peluang bisnis sebesar-besarnya bagi para pengusaha Indoensia. Begitu juga pemerintah Jokowi telah memberikan lampu hijau kepada para pangeran Arab Saudi dan pengusahanya untuk berivestasi sebesar-besarnya di bumi Nusantara yang gemah ripah loh jinawi. Masyarakatknya ramah dan akidahnya sesama ahlussunah waljamaah.

* Penulis adalah alumnus Ummul Qura, Makkah, Pengurus PCI NU Arab Saudi.

TEKS : HARIANDUTA.COM

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: